Ini 2 Agustus 2026, 3 hari setelah aku berumur 28 tahun. Beberapa hari sebelum menjadi 28 tahun, aku memikirkan kontemplasi kehidupan selama ini sambil membayangkan bagaimana aku jadinya 2 tahun lagi, ketika berumur 30 tahun. Banyak yang bilang 30 tahun adalah masa yang menentukan akan jadi apa kita di sisa hidup. Sampai hari ini aku takut dengan hal itu.
Saat ini ditulis, aku masih LDM dengan istriku. Sejak menikah 3 tahun lalu, baru 1 tahun kami bisa serumah. Saat itu pula aku bisa menemani istri sejak hari pertama mengetahui dia hamil sampai melahirkan anak pertama kami. Saat anak kami berumur beberapa bulan, aku harus kembali LDM.
Entah karena sudah merasakan serumah atau karena ada anak, LDM kali ini serasa berbeda. Apalagi sudah beberapa kali anak kami sakit. Sakit pertama terjadi saat belum genap sebulan, saat itu kami belum LDM. Sakit kedua bulan lalu saat posisi sudah LDM dan aku langsung mengambil cuti untuk pulang. Saat ini, posisi anakku juga sedang tidak baik-baik saja dan sialnya aku tidak bisa langsung ke sana.
Sejak awal memang pernikahan kami menghadapi beberapa risiko yang sudah kami amini. Ternyata hal yang membuat kami berada di titik ini bukan risiko yang kami pikirkan, risiko ini yang baru terpikir saat sudah memiliki anak.
Aku sangat jarang menangis, bahkan ketika LDM dan pada masa sangat kangen, susah untuk menangis. Sekarang, tiap kali vidcall dengan anak, air mata selalu memberontak menitik. Masa-masa anak sakit pun jauh lebih sedih.
Aku merasa gagal menjadi ayah, gagal menjadi suami ketika ada di jarak sekarang. Ya, risiko LDM ada di pekerjaan kami. Itu hal yang kami amini sejak awal kami bekerja di sini. Banyak yang berhasil dengan keluarganya. Aku tidak tahu seberapa berat beban mereka, tapi aku merasa di saat ini pun kami sudah di ambang menyerah.
Seberat ini ternyata. Kami sudah punya solusi untuk kondisi ini kalau tetap LDM. Tetapi semuanya perlu waktu, aku tidak sabaran. Di sisi lain, kondisi terasa makin berat dari hari ke hari. Ada kalanya semuanya baik-baik saja, tetapi tidak setiap hari.
Kepada yang membaca ini, mohon doanya untuk kekuatan kami. Mohon doanya anak kami bisa terus sehat dan bertumbuh, mohon doanya istriku bisa kuat dengan semua ini, mohon doanya agar aku bisa turut menguatkan keluarga kami.
Mohon doanya kami dipersatukan.



