Hujan masih turun rintik-rintik, namun waktu memaksaku untuk pulang, keringat dan air hujan bercampur di tubuhku, tidak ada firasat aneh sepanjang jalan pulang, semua berjalan seperti biasa, cuma jalanan yang lebih sepi dan licin karena hujan yang jadi pembeda, juga bau khas hujan, tapi tiba-tiba,
“A…!” teriakan seorang ibu memecah keheningan, menyaingi suara rintik yang mengenai tanah, anak kecil berbaju seragam putih merah dengan sepeda (kecilnya) yang mencoba menyebrang jalan langsung berhenti, aku juga refleks berhenti karena ibu tadi dengan sepeda motornya terhenti tepat di depan jalanku. Beliau yang membawa anak dan berteriak ada di belakang, jadi yang terjatuh adalah dua orang ibu yang berboncengan.
Ibu yang jadi pengemudi sepeda motor setelah terjatuh langsung menepi, sedangkan ibu yang membawa anak langsung memaki anak kecil berbaju putih merah tadi karena menganggapnya sebagai akibat terjatuhnya mereka berdua, dia menganggap anak yang tiba-tiba ingin melintas di simpang tiga itu tidak melihat jalan dan akibatnya temannya mengerem mendadak dan jalanan licin membuat sepeda motornya terjatuh, itu deduksi si ibu.
Aku sendiri tidak terlalu memperhatikan bagaimana keadaan selanjutnya, selesai meminggirkan sepeda motor bersama warga lain yang kebetulan lewat, aku langsung mengambil sepedaku lagi dan mengayuhnya lebih cepat ke rumah, panggilan Tuhan sudah menungguku.
Kalau kau terjatuh akibat lantai licin pas OB mengepel dan dia
lupa ngasih tanda peringatan lantai licin, yang salah siapa? Kan
walaupun gak ada tanda, pasti orang ngepel keliatan bahkan dari jauh.
Jadi, bisa sampai jatuh itu gegara emang gak liat ada makhluk segede
orang yang sedang melakukan aktifitas bernama ngepel, lagi cepet-cepet,
atau (emang) pengen jatuh?


